0 komentar


Pantai Pasir Panjang Painan
Objek wisata pantai Pasir Panjang ini terletak kira-kira 5 km di selatan kota Painan.Objek wisata yang terletak di pinggir jalan raya Padang Bengkulu ini sangat cocok untuk wisata keluarga.Di pantai pasir panjang ini anak-anak dapat bermain air laut dengan leluasa tanpa takut terseret ombak,karena di pasir panjang ini air lautnya dangkal dan berombak kecil.Di sini anak-anak juga dapat bermain pasir dengan tenang,membuat patung-patung pasir dibawah rerimbunan pohon-pohon yang tumbuh di pinggir pantai.
Pak Is yang mengelola objek pantai pasir putih ini,juga menyediakan tempat-tempat tiduran yang digantung diantara pohon-pohon kayu.wisatawan dapat menikmati keindahan alam pantai Pasir Panjang sambil berayun-ayun diatas buaian yang ada disini.
Selain itu pengelola pantai Pasir Panjang ini juga menyediakan ban dalam mobil yang dapat di gunakan untuk mandi-mandi.
Di objek wisata ini juga tersedia bermacam-macam kue-kue dan minuman.
Pemandangan di objek pantai Pasir Panjang ini sangat indah.jika kita memandang kearah selatan,akan terlihat pulau batu naga yang dari kejauhan akan terlihat mirip keong.
Pulau Batu Naga Di Ujung Bukit Pulai
Kalau kita arahkan lagi kearah timur kita dapat melihat pantai kampung Sungai Nipah dan Batu Kodi di ujung bukit Pulai.
Objek wisata pantai Pasir Panjang memiliki daya tarik tersendiri ,terutama untuk wisata keluarga.
“Pasir panjang ini sangat bagus untuk rekreasi bersama anak,anak-anak dapat bermain dengan air atau pasir dengan bebas tanpa kita takut akan hanyut”kata Budi salah seorang pengunjung yang sedang bermain dengan isteri dan putri tunggalnya.
Sementara itu Pak Is pengelola objek wisata pantai Pasir Panjang ini tidak memungut biaya apapun untuk masuk lokasi objek wisata,tetapi yang diharapkan dari pengunjung adalah pengunjung membeli kue-kue dan minuman yang di jual oleh Pak Is,lalu dengan cara demikian apakah harga kue dan minuman itu dinaikan harganya? Ternyata tidak,harga kue-kue dan minuman yang di jual oleh Pak Is sama dengan harga kue-kue dan minuman yang di jual diwarung-warung biasa.
“Nah,bagi wisatawan yang tertarik untuk mencoba berwisata bersama keluarga ke objek wisata pantai Pasir Panjang Painan,silahkan datang,dan suatau saat nanti pasti ada keinginan untuk kembali lagi ke sini”demikianlah promo dari Pak Is.
Yang perlu anda perhatikan adalah,letak objek wisata pantai Pasir Panjang adalah jika dari Painan sebelum masuk kampung Sungai Nipah,kira-kira 50 meter setelah pendakian Bukit Rasak(pendakian lurus yang agak tinggi)belok ke kanan dan turun kebawah.
Oleh : Efni Dewita (wiwik)

Read More »

3 komentar


Pantai Carocok Painan Di Waktu senja
Pantai carocok ini terletak disebelah barat kota Painan, berjarak kira-kira 2 km dari Pasar Painan.
Pantai ini Sangat Terkenal di Sumatera Barat maupun Indonesia, kata sebagian orang Pantai Carocok ini tidak kalah dari Pantai di Malaysia ( Pantai Semenanjung Kra ).
Dalam kawasan Objek Wisata Pantai Carocok Painan ini Juga terdapat sebuah Pulau Batu Karang yang tersambung dengan ujung Bukit Langkisau.Yaitu Pulau Batu Kareta
Dahulu Pulau Batu Kareta dapat dicapai hanya Pada saat air Pasang surut, akan tetapi sejak dibangunnya Jembatan oleh Pihak Pemkab Pesisir Selatan Pulau Batu Kareta ini dapat dicapai kapan saja .
Tidak itu saja sekitar 200 meter kebarat Pantai carocok ini terletak sebuah pulau kecil yang bersejarah,yaitu Pulau Cingkuk.Dipulau ini dapat kita jumpai bekas-bekas Reruntuhan Benteng Portugis.
Menurut Sejarah Pertama kali Portugis menjejakan kakinya di Pesisir Pulau Sumatera adalah di Pulau Cingkuk ini.
Di samping benteng Portugis tersebut di pulau ini juga ada sebuah makam orang belanda yang ada prasastinya.
Pulau kecil yang berpasir putih dan berair sangat bersih serta sangat tenang ini sangat ramai dikunjungi orang untuk berwisata terutama pada saat hari libur.
Berbagai kegiatan dapat dilakukan di pulau cingkuk ini mulai dari mandi air laut ,menyelam sampai memancing dapat dilakukan disini
Untuk mencapai pulau ini tidak susah,anda cukup berdiri di ujung jembatan wisata pantai Carocok Painan yang berada dihadapan Pulau Cingkuk, Beberapa orang tukang perahu bermesin tempel akan menghampiri anda, menawarkan jasanya untuk mengantarkan anda Ke Pulau Cingkuk.cukup dengan biaya Rp.10.000,- per orang.
Saat yang paling indah di pantai carocok painan adalah disaat matahari akan tengelam, Panorama Jingga Sunset yang memantul diatas Permukaan Samudera Indonesia sangat bagus disaksikan disini.
Akses ke Pantai Carocok Painan.
Untuk mencapai lokasi pantai carocok ini tidaklah susah, dari Padang, ibukota Propinsi Sumatera barat anda menuju Kota Painan,ibukota kabupaten Pesisir Selatan.Setiba di Kota Painan, tetap jalan di jalan jalur dua, sesampai di simpang tiga sebelum pasar Painan, anda akan melihat gerbang masuk Pantai Carocok, telusuri saja sajan tersebut maka anda akan sampai di Pantai Carocok Painan.
Soal tempat menginap di kota Painan Tersedia Beberapa wisma, Juga tempat makan. jadi anda tidak usah khawatir jika Berkunjung ke Painan.
Selamat berkunjung.
By. Efni Dewita ( Wiwik )

Read More »

0 komentar


Air terjun Timbulun

Kota kecil Painan selain memiliki objek wisata pantai carocok dan bukit langkisau juga memiliki sebuah air terjun yang indah yaitu air terjun Timbulun.
Air Terjun Timbulun ini terletak di kampung Painan Timur,Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan,jaraknya kira-kira 3 km dari pusat kota Painan.
Air Terjun Timbulun ini memiliki keindahan tersendiri,air terjunnya yang terdiri dari beberapa tingkat ini memiliki bentuk air terjun dan lubuk yang berbeda-beda.
Pada air terjun tingkat pertama,yaitu air terjun yang pertama kali kita jumpai begitu kita sampai di lokasi Timbulun,disini didapati sebuah lubuk yang agak besar yang bagus untuk mandi,lubuk disini makin ketengah makin dalam.
Pada Air terjun tingkat kedua,air terjun ini agak melandai,air terjunnya bergemuruh diselah-selah bebatuan,pada tempat jatuhnya air ada lubuk yang indah yang seluruh tebing dan dasar lubuknya terdiri dari batu yang dibentuk oleh alam,Lubuk Air Terjun Timbulun tingkat kedua inilah yang paling indah untuk mandi-mandi.
Bertambah naik lagi kita keatas,ke air terjun Timbulun tingkat ketiga,air terjun ini tegak vertikal kira-kira 15 meter,juga mempunyai lubuk yang dalam,air disini agak kehijauan
Pertanda lubuk tersebut dalam,disini jarang orang yang mandi-mandi dikarenakan letaknya yang agak jauh dan untuk mencapai tempat ini harus menyeberangi aliran air terjun yang cukup deras.Juga pada air terjun ketiga ini hutan disekitarnya masih lebat dan kurang cahya matahari karena tertutup rimbunnya daun kayu yang tumbuh di sekitarnya.
Walau Air terjun Timbulun tingkat ketiga ini termasuk jarang di kunjungi orang tetapi air terjun ini memeliki pesona tersendiri dibandingkan dengan air terjun Timbulun tingkat pertama atau kedua,karena jika kita berada disini tidak ada yang tidak basah,hal ini disebabkan oleh gemercik air yang membias dari air terjun ini.
Dengan adanya gemercik air dari air terjun ini jika matahari bersinar terik,sinarnya yang berhasil menembus celah-celah rimbunya dedaunan akan menciptakan sebuah nuansa keindahan pelangi di air terjun Timbulun tingkat ketiga ini.
Air terjun indah yang berair sangat sejuk ini hulunya berada di areal Taman Nasional Kerinci Seblat dan bermuara ke samudera Indonesia atau di teluk Painan.

Read More »

0 komentar


air terjun bayang sani tingkat pertama

Air terjun Bayang Sani indah terletak di kampung Koto Baru kecamatan Bayang.Air terjun dengan ketinggian hampir 80 puluh meter ini memang sudah sangat terkenal sejak dahulunya.Pada zaman penjajahan belanda, air terjun Bayang Sani ini menjadi tempat mandi-mandinya mener-mener dan nona-nona belanda.Saking takjubnya mener dan nona belanda tersebut pada air terjun ini maka diberilah nama air terjun ini dengan nama WELL COME atau air terjun selamat datang.
Dahulunya air terjun yang mirip dengan ekor kuda ini selalu disebut oleh masyarakat dengan nama well come baru pada dekade tahun 80-an nama well come itu diganti dengan nama Bayang Sani.
Air terjun Bayang Sani ini menjadi icon wisata air terjun di kabupaten Pesisir Selatan.Dapat dibilang air terjun Bayang Sani ini air terjun yang terbesar di kabupaten Pesisir Selatan.Air terjun Bayang Sani terdiri dari beberapa tingkat,menurut penduduk sekitar ada sekitar lima buah air terjun.Tetapi yang dapat dijangkau hanya sampai pada air terjun tingkat kedua.
Air terjun Bayang sani tingkat pertama adalah air terjun yang menyambut para wisatawan saat baru sampai di lokasi.
Pada air terjun tingkat pertama ini ketinggiannya hampir 80 meter,terdiri dari tiga cabang air terjun yang meliuk-liuk diatas bebatuan cadas tempat air itu mengalir.Dibawah air terjun ini ada lubuk yang telah dibuatkan kolamnya untuk tempat mandi-mandi.Disini juga telah dilengkapi dengan tempat ganti pakaian,toilet dan tempat sembahyang.
Disekitar air terjun Bayang Sani tingkat pertama ini banyak orang berjualan,berbagai makanan atau kue-kue banyak di jual disini.Pada intinya air terjun tingkat pertama inilah yang paling banyak dikunjungi orang untuk tujuan wisata.
Air terjun Bayang Sani tingkat kedua adalah sebuah air terjun yang terletak kira-kira 400 meter di atas air terjun Bayang Sani tingkat pertama.
Untuk samapai di air terjun tingkat kedua ini wisatawan harus berjalan kaki mendaki bukit yang terletak di samping air terjun bayang sani tingkat pertama sejauh lebih kurang 400 meter,perjalanan meyusuri perkebunan karet penduduk.
Air terjun bayang sani tingkat kedua ini berdiri tegak dengan ketinggian kira-kira 25 meter.Air terjunnya hanya satu tidak terbagi seperti air terjun bayang sani tingkat pertama.
Udara disekitar air terjun tingkat kedua ini agak lembab,karena hampir seluruh lokasi air terjun tertutup oleh dedaunan tumbuhan hutan yang rimbun.
Pada air terjun ini air dilubuknya berwarna kehijauan pertanda dalam,yang indah pada air terjun ini adalah dilubuknya yang dalam itu terdapat batu-batu besar yang menyembul ke permukaan seperti pulau-pulau ditengah lautan.
Airnya yang yang berhulu dari rimba perbukitan Lumpo yang masuk kawasan TNKS terasa sangat sejuk sehingga wisatawan tidak tahan untuk berlama-lama mandi disini.
Air terjun ini memang tidak begitu banyak dikunjunginya dikarena letaknya yang agak jauh dengan jalan setapak yang mendaki agak curam.
Nah berkunjunglah ke air terjun rang bayang ini.
Selamat bermandi-mandi………
oleh : Efni Dewita (wiwik)

Read More »

0 komentar


Pantai Salido Dilihat dari Puncak Bukit Langkisau
Bukit Langkisau, Sebuah Bukit kecil yang Terletak diantara Kota Painan dan Nagari Salido.
Sejak di Bangunnya Jalan ke Puncak Bukit Langkisau ini oleh Pemda Kabupaten Pesisir Selatan, Bukit ini ramai dikunjungi orang baik warga kota Painan atau Pesisir selatan juga dari Sumatera Barat dan Nasional.
Nama Bukit Langkisau semakin terkenal di Indonesia bahkan di dunia karena sekarang Bukit Langkisau ini menjadi salah satu Arena Paralayang yang paling banyak di minati oleh Para Glider Nusantara dan Dunia, Sebab menurut pengakuan salah seorang Para Glider Amerika Serikat Ray Benson yang mencoba nikmatnya Terbang di Bukit Langkisau mengatakan Bukit Langkisau sangat bagus .sambil mengancungkan jempolnya.
Perkataan Ray Benson itu memang ada benarnya, Bukit Langkisau memang memiliki Keindahan yang luar biasa, ketika kita berdiri di tempat atlit Paralayang untuk lepas landas, kita akan menyaksikan Panorama Samudera Indonesia yang Indah, kearah Utaranya kita dapat melihat Nagari Salido dengan Sungainya yang berliku.
Beralih kita melihat kearah Timur Bukit Langkisau kita akan melihat Pemandangan kota Painan nan Cantik, lebih keselatan lagi terhampar teluk Painan yang Tenang dan di kejauhan nampak Pelabuhan Panasahan Painan.
Bukan itu saja di bukit Langkisau ini juga ada sebuah makam yang dikeramatkan oleh orang-orang tertentu,orang sekitar Bukit Langkisau memberi Nama Makam itu dengan Tampat Bukit Langkisau.
Ya, sekarang Bukit Langkisau bukan lagi bukit yang dahulu hanya semak belukar, akan tetapi Sekarang bukit Langkisau telah berubah menjadi Surga Para Pencinta Olah raga Paralayang.
Oleh : Efni Dewita (wiwik)

Read More »

0 komentar
Banjir di Kecamatan Sutera Dan Kecamatan Lengayang pada tanggal 3 November 2011 yang memutuskan jalan lintas barat Padang - Bengkulu sekitar 100 m di Ds.Ujung Air Kecamatan Lengayang.









Read More »

0 komentar
Jembatan akar di Pulut-pulut.(atas)



Jembatan akar di Cherrapunjee india ini dikenal dengan sebutan “Umshiang Double-Decker Root Bridge.” Terdiri dari dua lapis jembatan, di atas dan dibawahnya.(bawah)

Read More »

0 komentar
Pantai carocok Painan dengan pulau Batu Kereta dan pulau Cingkuknya (atas).


Pantai pulau Langkawi di Keddah Malaysia.

Permintaan,ntuk Parjock : jika nanti ambil gambar Pulau Batu Keretanya pakai kamera yang agak bagus ya,jangan dari kamera HP.Biar gambar pantai Carocok kita ini lebih bagus dari pantai Langkawi sana.. thanks ntuk bung Parjock.

Pembaca kasih koment ya......

Read More »

4 komentar
 PLTA Salido Kecil

Salido Ketek, sebuah kampung kecil, sekitar 10 kilometer dari Kota Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.Disini semasa dahulu ada tambang emas yang dikelolah oleh pemerintahan Hindia Belanda.

kampung kecil ini sangat banyak menyimpan sejarah tentang kekejaman pemerintahan belanda maupun jepang kepada bangsa indonesia.

 Jembatan Air untuk menuju PLTA

di salido kecil ini ada sebuah pembangkit listrik tenaga air yang di bangun oleh belanda, untuk pemasok listrik pabrik semen di Indarung Padang.


Gunung Harun, merupakan tambang emas yang di masa kolonial dikenal sebagai tambang emas Salido. Hingga kini, konon, masih satu dua orang, yang rutin mencari emas di ketinggiannya. Pada abad-abad lalu, orang dari berbagai bangsa, sampai ke puncaknya untuk mendapatkan emas.

Jembatan Air untuk menuju PLTA

Langkah Memintas Matahari Terbenam
Pagi menunjukkan pukul 07.05 WIB. Kami mulai meninggalkan kedai Pak Bugih, yang terletak di penghabisan jalan aspal hotmix selebar dua meter. Jalan itu tertumbuk pada gedung Pembangkit Listrik Tenaga Mikro (PLTM) peninggalan Belanda yang bersisian dengan kedai Pak Bugih.
Kedai yang dikenal masyarakat sejak dari pertigaan jalan masuk ke Salido Ketek ini, seumpama media center bagi yang ingin mendapatkan informasi tentang para penambang yang sedang berada di Gunung Harun. Sebab, setiap penambang yang akan naik, selalu singgah dan bercerita di kedai itu.

Pak Ayat berjalan agak di depan. ”Jalannya agak licin, hati-hati,” kata Pak Ayat. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai mantan penambang di tambang Salido. Kami mulai menapaki jalan tanah yang becek dan licin selebar kurang lebih setengah meter. Semalam hujan turun agak deras di sini. Huff. Mudah-mudahan jalan lanyah berlumpur ini hanya beberapa meter saja, batin saya. Teringat ucapan Pak Ayat, harus sampai sebelum matahari terbenam. Artinya, kami bagai diajak memintas gerak matahari, agar tak terjebak gelap sebelum sampai di puncak Gunung Harun.

Ow! Ternyata tak hanya jalan tanah becek yang dilalui. Jalan setapak ke puncak bukit itu juga dipenuhi batu-batu berlumut dan lembab. Urat-urat kayu, yang juga berlumut dan licin, di tepi jurang dan bekas longsor pun menjadi jalur yang harus kami lalui. Setelah itu, kami pun menaiki bukit-bukit dengan jalur pendakian yang mendekati sudut 90 derajat.

Kedai Pak Bugih sudah jauh kami tinggalkan. Sekitar dua jam perjalanan, kami sampai di seberang sungai Sariak dan sebuah ladang. Ya, ladang terakhir yang kami temui. Sebab, setelah itu hutan rimba. Di depan saya membentang jalan berlapis batu dan sembulan urat pepohonan.
Lebarnya tidak sampai satu meter. Berkelok masuk ke hutan, licin, berlumut, dan nyaris tertutup semak. Saya mulai merasakan suasana yang sangat asing. Apalagi, suara beruk jantan timpa-bertimpa, seperti menyoraki kami, terutama saya dan fotografer yang baru pertama kali melewati jalur berat ini, yang mulai tertatih. Sempat terlintas di benak saya betapa beratnya perjuangan mereka untuk mencapai tambang emas.

Karena jalan licin, kemiringan hampir 90 derajat, Pak Ayat menyarankan kami memakai tongkat sebagai penyangga tubuh dan langkah. Kami pun akhirnya mendapatkan kayu sebagai tongkat. Dalam perjalanan, kami melihat kayu-kayu besar bekas pembalakkan. Sebagian hutan tersebut berada dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang dalam ketentuan hukumnya dilarang menebang pohon di sana.

Jalur pencari emas ini membentang hampir 15 kilometer yang melintasi bukit Jalamu Ketek, dari ladang masyarakat di Sungai Sariak. Lalu, menyeberangi sungai dengan batu-batu besar berlumut, mendaki bukit Jalamu Gadang. Jalur itu terus menanjak hingga bukit Batu Kursi. Sebelum sampai ke pelabuhan (sebutan untuk puncak Gunung Harun bagi penambang), akan menemukan jalan mendatar atau menurun.
Ini dirasa sebagai sebuah kebahagiaan. Karena bisa menegakkan pinggang yang sedari tadi tertekuk dalam pendakian yang hampir tegak lurus itu.

”Sekitar tahun 1990 hingga 1996, jalan ini sangat ramai sekali. Ibaratnya, pasar oleh orang-orang yang naik-turun,” kata Ayat mengingat, sembari tetap berjalan, tanpa terlihat sedikit pun engah atau sesak napasnya. Memang, turun naik Gunung Harun, bagi Ayat sudah biasa. ”Ada sekitar 50 orang naik dan 50 orang turun bukit pada tahun tersebut. Sehingga jalur ini sangat ramai,” katanya.

Dulu, jalan mendaki yang kami tempuh menuju bukit Harun ini lebar. Di tengah jalan kita akan berpapasan dengan orang yang turun atau sebaliknya demi emas. Kadang karena ramainya ketika itu, tanpa sadar jalur ini terasa pendek. Kesibukan penambang turun naik ke Gunung Harun, berakhir tahun 1995. Cerita Pak Ayat, pada masa itu terjadi bentrok antarpenambang. Mereka berebut lahan lubang tambang. Perkelahian tak terelakkan.
Ditambah lagi, para oknum aparat yang mengaku sebagai polisi atau tentara, minta jatah ke penambang. Makin lama, hasil tambang yang didapat penambang makin berkurang. Karena merasa kurang nyaman, banyak ancaman, satu per satu penambang tidak lagi mengunjungi Gunung Harun. Lama-lama tak seorang pun yang mendaki untuk mendapatkan emas. Baru kemudian, sekitar 2004, ada satu dua orang yang kembali ke sana.

Di tengah perjalanan menuju pelabuhan, kami berpapasan dengan tiga orang yang baru kembali dari Gunung Harun. Dua di antaranya membawa batu-batu mengandung emas dalam karung yang dijunjung di kepalanya. Dari taksiran mereka, masing-masing karung itu beratnya sekitar 30 kilogram. Batu-batu yang dikenal dengan sebutan umpan itu, menurut Labai, salah seorang dari mereka bertiga yang tidak membawa batu, akan dibawa ke Padang sebagai contoh.

”Pesanan seseorang di Padang. Kabarnya, ada bahan kimia baru, selain air raksa, yang bisa memisahkan langsung emas dan perak. Tapi, harganya mahal,” tutur lelaki 60 tahun itu.

Labai juga bekas penambang. Dia juga eksis dalam periode 1990-an itu. Dari ceritanya, Gunung Harun masih mengandung banyak emas. Namun, karena ditambang secara manual dan tradisional, maka belum seberapa emas yang bisa diambil dari lambung bukit itu.

Berikutnya, jalur menurun yang tidak kalah terjal dari mendaki. Nampaknya, menurun dan mendaki sama saja di sini. Sama hampir tegak lurus. Dan, matahari, mulai berat condong ke barat. Kami merasakan sore menyambut.

”Sehabis penurunan ini, satu pendakian tegak lagi. Maka sampailah kita di pelabuhan,” sebut Pak Ayat, ayah dari empat anak laki-laki ini. Pelabuhan merupakan puncak bukit Gunung Harun. Di sebut pelabuhan, karena di puncak bukit itu, dulu pernah dibangun sebuah tempat pendaratan helikopter atau hellypad. Saat itu, penambangan dikelola PT Alam Peling.
Sekitar setengah hektare hutan di puncak bukit itu dibabat dan kayu-kayu gelondongannya dibuat serupa panggung untuk helikopter mendarat. Di sanalah para bos penambang itu turun dan melihat hasil usahanya. Melalui helikopter juga emas-emas diangkut. Di dekat pelabuhan itu, juga ada bekas jalan besar, yang kabarnya digunakan Belanda untuk mengangkut emas zaman dulu. Sekarang bekas jalan itu telah ditumbuhi pepohonan.

Menuruni Pelabuhan, Merebut Senja di Puncak

Menuruni pelabuhan menuju bukit berikutnya. Di sanalah lubang-lubang tambang itu berada. Kami melihat, sebuah lubang yang tertutup semak dan pohon kecil nampak menganga. Pintu lubang yang ditembok melengkung itu dipenuhi lumut dan tumbuhan menjalar. Pak Ayat menerangi jalan ke lubang dengan parangnya. Terngangalah dengan jelas lubang besar menembus lambung bukit itu. Batas penglihatan normal dalam lubang itu hanya sekitar 20 meter. Selebihnya, kelam. Perlu penerangan untuk masuk lebih jauh ke lubang itu.

”Di dalam lubang itulah para penambang mencari emas, yang di masa Belanda ratusan orang banyaknya,” kata Pak Ayat. Lubang dimaksud, lebih tepat disebut terowongan, karena lorongnya yang panjang dan gelap seperti tidak berujung.

Kami pun mendapatkan lubang tembok, salah satu dari lubang peninggalan Belanda di Gunung Harun. Kemudian, kata Pak Ayat, selain lubang tembok tersebut, banyak lagi tempat emas-emas dicari dulunya, seperti lubang Catharina, lubang Wihelmina, dan seterusnya. Masing-masing lubang berjarak 500 hingga 1.000 meter di lereng-lereng bukit berlapis itu. Bahkan, ada lubang-lubang yang terletak di tebing yang tegak lurus. Diperlukan tali untuk naik ke atasnya.

Sekitar 500 meter dari lubang tembok itu, agak ke bawah, terdapat lubang berair. Pintu lubang ini sebagian telah tertutup runtuhan tanah. Ada air mengalir serupa bandar kecil dari dalam lubang itu. Makanya disebut lubang berair. Di sekitar lubang berair itu, terlihat material longsoran berupa batu-batu karang masih memerah, belum ditumbuhi lumut atau rumput. Kabarnya, bukit terjal itu longsor akibat gempa 30 September 2009 lalu, yang melanda Sumatera Barat.

Dari bukit longsor itu, perjalanan kembali dilanjutkan, yang kata Pak Ayat menuju bedeng penambang yang masih beraktivitas di Gunung Harun. Hari mulai beringsut senja. Kabut mulai turun membawa hawa dingin. Sebelum gelap, kami harus sampai di bedeng itu. ”Sudah dekat. Setelah bukit longsor ini, satu penurunan lagi,” kata Pak Ayat, sambil menyandang kembali tas ranselnya mengakhiri istirahat di bekas longsoran itu.

Setelah bukit longsor itu, kami kembali masuk hutan, dengan jalan yang tidak berbeda dari sebelumnya, licin dan berbatu. Terus menurun menuju bedeng yang terletak di pinggir sungai di bukit.

Akhirnya, sampai jua kami di bedeng itu. Matahari masih terlihat. Belum sempurna terbenam. Seorang laki-laki kelihatan sedang berjalan menuju tangga bedeng yang terpaku pada sebatang pohon jengkol itu. Ia melihat kami datang. ”Apo kaba, Pak Dusun. Masuaklah,” katanya menyapa Pak Ayat, yang pernah menjabat kepala dusun di Mandiangin, Salido. Saya sempat mengitari pandang ke sekeliling. Ternyata, di puncak ini, sebelum kami tiba, hanya ada mereka berdua pemilik bedeng. Tak terbayangkan bagaimana mereka melewati malam, tanpa sesiapa yang lain di sini.

Lelaki yang punya bedeng itu bernama Syahrial, 40, berasal dari Lumpo. Di menambang emas di Gunung Harun bersama Amir, 45.
Bedeng itu berbentuk rumah panggung. Dibangun kokoh dengan kayu-kayu yang diambil di sekitarnya. Beratap terpal dan berlantai papan. Bagian atas atau lantai papan itu digunakan untuk tidur dan beribadah. Sementara lantai dasar atau kolongnya, dipakai untuk dapur dan menyimpan perbekalan untuk makan. Di sana ada sebuah peti, yang juga berfungsi sebagai tempat duduk.

Ketika malam betul-betul menyatakan sosok pekatnya, lampu togok yang terbuat dari botol diberi sumbu, menyala membunuh kelam. Saya menyadari, di ketinggian yang lengang, dingin dan sesekali terasa mencekam, hanya ada lima orang. Saya, Hijrah, Pak Ayat dan dua kenalan baru kami yang penambang, Syahrial dan Amir.

Sebelum tidur, setelah makan, kami ngobrol. Dalam obrolan, kami sama-sama mencatat data sejarah, kalau ratusan tahun sebelum bukit itu longsor, daerah Gunung Harun ini menjadi pusat penambangan emas di Salido. Suryadi, peneliti dan dosen Leiden University, pernah menuliskannya tentang hal ini. Pak Ayat, Syahrial dan Amir, mempercayai hal itu. Menurut perkiraan Suryadi, putra asli Pariaman ini, tambang emas tempat kami bermalam pada sebuah bedeng ini, merupakan tambang emas tertua di Sumatera, mungkin juga di Indonesia.

Pada masa dulunya di Salido ada sebutan ”demam Salido”. Di mana penguasa-penguasa kolonial dan pedagang dari berbagai bangsa berdatangan ke Salida. Mereka berebut emas di sana. Sesuai dengan maknanya, Salido berarti gerbang, sehingga ketika itu Salida betul-betul sebagai gerbang dunia, melalui jalur selatan Samudra Hindia.

Menjelang tertidur, api-api kecil seperti serangga berterbangan. Saya membayangkan kisah yang ternukilkan dalam cerita rakyat sekitar 1.000 tahun silam tentang Lumbung Emas Salido, sebagai penanda di bawahnya ada tanah menyimpan emas. (Gusriyono)
sumber : http://padangekspres.co.id

Read More »

0 komentar
Orang Eropa di Pantai Karang Sagoe Painan Tahun 1902
Sumber : commons.wikimedia.org

Pantai Painan tempo dahulu (tahunnya tidak diketahui)
Sumber : commons.wikimedia.org

Pantai Painan di era Tahun 1930 an
Sumber Foto :id.wikipedia.org


Read More »